SHANDONG, SP - Di tengah identitas Kota Qufu sebagai tempat kelahiran filsuf besar Konfusius, berkembang sebuah pandangan menarik dari komunitas Muslim setempat. Bagi mereka, Islam dan Konfusianisme bukanlah dua tradisi yang harus dipertentangkan, melainkan memiliki banyak nilai yang dapat dipertemukan dalam kehidupan sehari-hari.
Pandangan tersebut disampaikan Imam Masjid Qufu (????? / Q?fù Q?ngzh?nsì), H. Irsa (Yuan Caidong), saat menerima kunjungan Prof. Dr. Samsul Hidayat, M.A., dosen IAIN Pontianak, yang sedang mengikuti Qilu Visiting and Research Residency Program yang diselenggarakan oleh Confucius Research Institute (CRI) di Qufu, Provinsi Shandong Tiongkok.
Dalam wawancara yang berlangsung di ruang tamu masjid, H. Irsa mengungkapkan bahwa tantangan utama yang dihadapi komunitas Muslim di kota kelahiran Konfusius bukanlah persoalan hubungan dengan masyarakat sekitar. Tantangan yang lebih penting adalah bagaimana memperdalam pemahaman terhadap sejarah, budaya, dan nilai-nilai lokal agar ajaran Islam dapat dijelaskan melalui bahasa budaya yang dipahami masyarakat.
"Tantangan kami terutama berada pada aspek budaya dan sejarah. Kami perlu terus belajar agar dapat menghubungkan ajaran Islam dengan nilai-nilai Konfusianisme," ujar H. Irsa.
Menurutnya, banyak nilai dasar dalam kedua tradisi tersebut yang memiliki kesamaan. Keduanya sama-sama mengajarkan penghormatan kepada orang tua, penghormatan kepada tamu, pentingnya akhlak, kejujuran, tanggung jawab, dan kehidupan bermasyarakat yang harmonis.
Pandangan tersebut juga tercermin dalam praktik sehari-hari di Masjid Qufu. Setiap tamu yang datang disambut dengan penuh penghormatan melalui tradisi penyajian teh sebelum percakapan dimulai. Tradisi itu tidak hanya dipandang sebagai kebiasaan masyarakat Tiongkok, tetapi juga sebagai bentuk penghormatan kepada tamu yang sejalan dengan nilai-nilai Islam.
Dalam kesempatan yang sama, Prof. Samsul menyampaikan bahwa selama melakukan penelitian di Qufu, ia menemukan banyak titik temu antara ajaran Islam dan etika Konfusianisme yang hidup dalam masyarakat.
"Ketika saya melihat cara mereka menyambut tamu, menjaga hubungan dengan masyarakat sekitar, hingga menghormati orang yang lebih tua, saya melihat adanya ruang dialog yang sangat luas antara Islam dan Konfusianisme. Persamaannya jauh lebih banyak daripada yang selama ini dibayangkan," ujar Prof. Samsul.
Temuan tersebut semakin menarik ketika Prof. Samsul mengetahui adanya seorang warga non-Muslim yang secara sukarela datang ke Masjid Qufu untuk mempelajari Islam. Menurut H. Irsa, orang tersebut telah sekitar satu tahun mengikuti berbagai kegiatan di lingkungan masjid karena tertarik memahami budaya dan ajaran Islam.
Meskipun belum memeluk Islam, ia beberapa kali hadir saat pelaksanaan salat berjemaah sebagai bagian dari proses belajar. Bagi H. Irsa, kondisi tersebut menunjukkan bahwa masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi ruang belajar dan ruang dialog yang terbuka bagi siapa pun yang ingin mengenal Islam.
Fenomena tersebut, menurut Prof. Samsul, memperlihatkan bahwa dialog antaragama tidak selalu berlangsung dalam forum resmi atau seminar akademik. Dialog juga dapat tumbuh melalui interaksi sehari-hari, keterbukaan masyarakat, dan kesediaan untuk saling belajar.
"Dialog peradaban sering kali dimulai dari hal-hal sederhana, seperti menerima tamu dengan hormat, berbincang sambil menikmati secangkir teh, atau memberikan kesempatan kepada orang lain untuk mengenal agama tanpa paksaan. Saya melihat praktik seperti itu hidup di Qufu," katanya.
Ia menambahkan bahwa pengalaman lapangan selama mengikuti Qilu Visiting and Research Residency Program memberikan perspektif baru mengenai hubungan Islam dan budaya Tiongkok. Menurutnya, penelitian semacam ini penting untuk memperluas kajian agama-agama, khususnya dalam memahami bagaimana nilai-nilai keagamaan dapat berinteraksi secara konstruktif dengan budaya lokal.
Bagi Prof. Samsul, pengalaman di Masjid Qufu (Q?fù Q?ngzh?nsì) menunjukkan bahwa harmoni tidak lahir karena perbedaan diabaikan, melainkan karena setiap komunitas bersedia mencari nilai-nilai universal yang dapat menjadi titik temu.
Dari kota kelahiran Konfusius, dialog antara Islam dan Konfusianisme terus tumbuh melalui praktik kehidupan sehari-hari yang sederhana, tetapi sarat makna bagi pembangunan masyarakat yang damai dan saling menghormati. (*)